Membangun Karir dengan Ketekunan dan Integritas – Pemilik Penerbitan Katherine Graham

la Membangun Kariernya dengan Ketekunan dan Integritas

Katharine Graham (1917-2001) mengubah dirinya dari seorang Wanita pemalu yang penuh dengan keistimewaan rnenjadi salah satu pemilik penerbit paling berpengaruh di Amerika setelah memanfaatkan kekuatan dalam jiwanya dan tekad baja.

Mantan penerbit Washington Post dan Chief Executive serta Chairman Washington Post Co. menerapkan
kepemimpinan yang berani, integritas kewartawanan, dan perhatian. Kombinasi itu terbukti krusial dalam mengubah Post dari sebuah media massa biasa rnenjadi salah satu harian paling berpengaruh dan paling banyak dibaca. Ia menghadapi berbagai masalah dengan tenang dan berani. “Ia menemukan bahwa ia dapat meraih momen itu dan bangkit menghaclapi tantangan dan ia berhasil,” ungkap Jack Valenti dalam sebuah wawancara pada tahun 2001. Valenti, yang menjadi kepala Motion Picture Associaton of America, adalah teman lama Graham.
Mennrut Valenti, ia pertama kali mengetahui karakter Graham yang sekeras baja ketika Valenti menjadi asisten khusus untuk Presiden Lyndon B. Johnson (LBJ) dan Graham saat itu adalah seorang penerbit Post. Suatu kali, LBJ marah dan masuk ke kantornya di Gedung Putih dan memerintahkan Valenti untuk menghubungi Graham untuk memprotes sebuah cerita dari Surat kahar Post edisi pagi.

katharine Graham

 

“Graham selalu menerimanya dengan sangat ramah, tetapi tak pernah mundur,” kata Valenti. “LBJ pernah berkata kepada saya suatu kali, ‘Ya Tuhan, ia tidak lari dari masalah demi orang-orang yang bekerja untuknya!’ LBJ bisa memahami hal itu, bahkan sekalipun ia gusar atas beberapa kisah (yang dimuat di surat kabar itu). Graham adalah Wanita luar biasa.”

Graham tahu betapa pentingnya komunikasi yang baik dan bekerja secara terus-menerus untuk mempertahankan agar hubungan komunikasi itu tetap terbuka. Untuk menghindari kelemahan sebuah berita, misalnya, Graham menciptakan aturan “tidak ada kejutan” bersama dengan redaktur pelaksana Post Ben Bradlee. “Saya tidak ingin membaca sesuatu di surat kabar tentang sesuatu yang penting atau yang mewakili sebuah perubahan yang
mendadak yang tidak kita diskusikan, bahwa saya ingin hadir dalam peluncuran, juga pendaratan,” tulis Graham dalam buku kenang-kenangannya, Personal History, yang membuatnya memenangkan hadiah Pulitzer pada tahun 1998. “Saya berharap bisa mendapatkan ‘percakapan yang konstan’ yang masing-masing dari kita akan mengetahui apa yang dipikirkan oleh pihak lain.”

Ia tidak malu untuk membuat keputusan yang keras. Ketika Post mendapatkan dokumen rahasia volume 47 dari menteri pertahanan AS kala itu Robert McNamara tentang keterlibatan AS di Indochina——-Pentagon Papers—-Graham adalah pembuat keputusan inti. Graham mendapat tekanan yang sangat kuat untuk tidak memuplikasikannya. Surat kabar New York Times yang sudah memuplikasikan bagian pertama tentang dokumen itu, berada di bawah perintah pengadilan untuk menghentikan publikasi lebih lanjut. Lalu, muncul isu penawaran saham publik Post Co. yang datang. Perusahaan itu bisa mengalami kerentanan pada segi finansial.

“Saya takut dan tegang, saya menelan ludah dan berkata, “Lanjutkan saja, lanjutkan saja, lanjutkan saja. Kita lakukan saja. Mari kita publikasikan,” tulis Graham.

Keputusan itu merupakan keputusan jurnalistik yang penting, dan, menurut buku harian Bradlee, A Good Life, mencerminkan tingkat baru kepercayaan diri kepemimpinan Graham yang membantunya mendorong hal itu.
Tak lama kemudian, kasus itu dimenangkan oleh surat kabar Post dan New York Times dengan keputusan Mahkamah Agung enam suara berbanding tiga suara. “Materi dalam Pentagon Papers hanyalah jenis informasi
yang dibutuhkan masyarakat untuk membentuk opini mereka dan membuat pilihan yang lebih bijak,” tulis Graham.
Sesuai komitmennya pada hak publik untuk mengetahui, Graham sangat sadar akan perlunya keseimbangan. Selama pemuatan berita kasus Watergate yang sedang heboh di Markas Besar Kubu Demokrat, Graham menuntut anak buahnya untuk bersikap adil dan seimbang.
Rich Smith, pemimpin umum dan pemimpin redaksi Newsweek, mengatakan bahwa Graham selalu mengajukan
pertanyaan sulit: Apakah mereka mendapatkannya dengan benar? Apakah mereka adil? Bagaimana mereka dapat melakukannya dengan lebih baik?
“Pertanyaan sederhana seperti itu——yang diulangi berkali- kali, apakah ada protes dari pubiik atau tidak—-—kelihatannya seperti gaya lama yang aneh di era perputaran,” tulis Smith dalam Post. “Namun hal itu adalah jenis integritas, yang tanpa kenal lelah melakukan segala sesuatu ciengan lebih baik, untuk mencoba mendapatnya dengan benar’, yang membuat Kay menjadi sebuah mercusuar untuk semua orang yang peduli tentang nilai-nilai keterampilan kita.”
Pendekatan ini membuat Post memenangkan Anugerah Pulitzer dan ikut mendorong pengunduran diri Presiden Richard Nixon? pada tahuni 1974. Prinsip operasional yang dianut Graham tentang  jurnalisme yang baik adalah bisnis yang baik. “Kami beroperasi berdasarkan filosofi—yang telah saya dukung dan praktikkan sejak saat saya mengambil alih perusahaan ini-—-bahwa dalam jurnalistik, kualitas hebat dan kemampuan menghasilkan keuntungan berjalan secara seimbang.”
“Ia memiliki ketetapan hati dan ketekunan, saya kira kata ini merupakan jaminan, bukan dalam hal finansial, namun dalam hal bahwa ia bertanggung awab atas surat kabar ini,” kata Valenti. Graham mendapatkan sikap itu dari ayahnya, Eugene Meyer. Ia telah menghasilkan banyak uang di Wall Street dan membeli perusahaan yang bangkrut Washington Post pada tahun 1935 setelah memasukkan penawaran sebesar $825000 dalam lelang publik.

Dengan sirkulasi 50.000 eksemplar, surat kabar itu merugi $1 juta per tahun. Meyer merasa yakin bahwa ia dapat
memenuhi tantangan itu. Putrinya juga yakin bahwa ia dapat melakukannya. Di University of Chicago, ia meraih gelar sarjana di bidang sejarah Amerika yang berarti ia harus mengikuti kursus “Great Books” tentang sang legenda Mortimer Adler. Dalam seminar ini, Graham belajar tentang bagaimana untuk mendorong secara verbal dan menangkis.
“Metode yang mereka gunakan kerap kali mengajari Anda tentang bertahan, menantang mereka, dan secara fundamental menyenangkan para guru dengan melakukannya secara bersemangat dan bergairah, sehingga mereka senang,” tulis Graham.
Setelah kembali ke Washington, D.C., ia mendapat pekerjaain sebagai penyunting surat yang masuk di Post untuk
editor. Ia menikah dengan Phil Graham. Ayahnya segera memerintahkan Phil untuk menjadi penerbit Post, posisi yang pada tahun 1946.
Tetapi kematian ayahnya dan peristiwa bunuh diri Katharine Graham mengambil jalan baru. Wanita muda yang pemalu itu tiba-tiba menyadari bahwa dirinya adalah presiden baru The Washington Post Co. pada tahun 1963.
Graham memutuskan untuk melakukan pendekatan helajar sambil melakukan untuk memahami bagairnana Post,
Newsweek, dan stasiun televisi Post Co. semuanya bisa berhasil. Ia bertanya kepada setiap orang. Ia memanggil para wartawan dan berbicara dengan mereka tentang berbagai kisah mereka untuk mempelajari berbagai masalah clan para karyawannya. Ia membiarkan timnya tahu bahwa ia berada di balik mereka, terbang ke New York City setiap Senin dan Selasa untuk hadir secara pribadi dalam pertemuan editorial clan konferensi cerita sampul Newsweek.
Sekalipun muncul tantangan, “Saya sedikit gernetar,” tulisnya kepada seorang teman, Graham dapat mengatasi rasa
ketakutannya itu. Ia mendorong dirinya untuk terus bergerak dan meningkatkan posisi Post pada kedudukan yang tinggi. “Saya harus sadar bahwa saya hanya dapat melakukan pekerjaan itu dengan cara apa pun yang bisa saya lakukan. Saya tidak dapat mencoba untuk menjadi orang lain,” katanya. Kesadaran tersebut terbukti menjadi kunci untuk surat kabar itu dan kesuksesan dirinya di masa depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published.