Kisah Tongkat Sunan Kalijaga dan (Mrapen) Api Yang Tak Pernah Padam

Mendengar nama Api Abadi Mrapen tentunya orang akan langsung berpikir mengenai sumber api yang tak pernah padam yang terletak di Desa Manggarmas, Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah.

Api abadi dari Mrapen merupakan fenomena geologi alam berupa keluarnya gas alam dari dalam tanah yang tersulut sehingga menciptakan api yang tidak pernah padam walaupun turun hujan sekalipun.

Banyak peristiwa besar mengambil api dari Kompleks Api Abadi Mrapen sebagai sumber obornya, yang pertama adalah pesta olahraga Internasional Ganefo I pada 1 November 1963.

Lalu api abadi ini juga kerap digunakan dalam Pekan Olah Raga Nasional (PON) termasuk yang baru lalu. Api abadi dari Mrapen juga digunakan untuk obor upacara Hari Raya Waisak.

Fenomena Api Abadi Mrapen konon terbentuk berkat karomah yang dimiliki salah satu anggota Wali Songo yaitu Sunan Kalijaga.

Kisahnya dimulai saat baru berdirinya Kerajaan Demak yang didirikan Raden Patah usai runtuhnya Kerajaan Majapahit pada 1525.

Kemudian Sunan Kalijaga sebagai salah satu ulama besar saat itu ditugaskan untuk membawa beberapa pusaka peninggalan Majapahit dan dari wilayah Jawa Timur ke Demak sebagai ibukota pemerintahan yang baru.

Pada saat itu Raden Patah atas saran para Wali Songo berniat untuk membangun sebuah masjid agung di ibukota negara.

Lalu berangkatlah rombongan Sunan Kalijaga ke Demak, setelah sampai di Desa Manggarmas, Grobogan mereka merasa sangat letih.

Kemudian rombongan itu beristirahat, karena tidak ada air untuk minum, maka Sunan Kalijaga berdoa memohon kepada Allah SWT agar diberi air untuk minum para pengikutnya. Kemudian tongkatnya ditancapkannya ke tanah, lalu dicabutnya kembali.

Tetapi yang keluar bukan air namun api yang tidak dapat padam (api abadi), sejak itulah tempat itu disebut Mrapen.

Kemudian di tempat lain dilakukan hal yang sama dan keluarlah pancuran air yang jernih, yang dapat diminum. Akhirnya tempat air tersebut dinamakan Sendang Dudo. Demikian rombongan itu lalu meminum dari sendang tersebut setelah hilang letihnya mereka melanjutkan perjalanannya ke Demak.

Sesampainya di Demak barang – barangnya yang dibawa diteliti. Ternyata ada yang ketinggalan di Mrapen, berupa sebuah ompak (alis tiang).

Namun Sunan Kalijaga menyatakan ompak itu tidak perlu diambil sebab nantinya akan banyak gunanya. Batu ompak itu kemudian dikenal dengan Watu Bobot.

Suatu ketika tempat tersebut digunakan oleh Jaka Supa untuk membuat keris pusaka atas perintah Sunan Kalijaga.

Jaka Supa adalah Putra Tumenggung Empu Supodriyo, seorang Wedana Bupati empu (tukang membuat alat perang dari besi) Kerajaan Majapahit. Pada waktu itu Jaka Supa sendiri telah menjabat sebagai jajar empu walaupun dia abdi Majapahit, tetapi dia telah belajar agama Islam pada Sunan Kalijaga.

Di tempat ini Jaka Supa atau Empu Supa membuat keris yang diberi nama Keris Kiai Songlat atau Kiai Selamet.

Uniknya keris ini dibuat tidak menggunakan alat pemukul (palu) tapi di tekan-tekan dengan jarinya.

Sedangkan untuk memanaskan besinya dan pembakaran digunakan Api Abadi Mrapen. Watu Bobot digunakan sebagai landasannya.

Sedang air sendang juga digunakan sebagai penyepuhnya. Aneh, air yang tadinya jernih setelah dipakai untuk menyepuh keris berubah warna menjadi kuning kecoklat – coklatan sampai sekarang.

Konon air Sendang Dudo ini dapat dipergunakan untuk mengobati penyakit kulit, serta batu bobot yang konon apabila seseorang dapat mengangkatnya maka yang mengangkat tersebut akan mendapatkan keinginannya.

Pada waktu Sultan Trenggono memerintah Kerajaan Demak, Mrapen mendapat perhatian karena sebagai tempat pembuatan pusaka kerajaan.

Peninggalan Sunan Kalijaga tersebut (Mrapen) diberikan sebagai tanah perdikan kepada Ki Demang Singo Dirono. Kemudian perawatan Mrapen dilanjutkan keturunannya sampai sekarang.

Leave a Reply

Your email address will not be published.