Bahaya dari Sifat Dengki

Kedengkian (hasad) adalah mengharapkan lenyapnya ni’mat dari orang yang didengki. Hal ini dalam beberapa keadaannya merupakan salah satu dosa besar. Dengki merupakan salah satu penyakit hati yang harus dihindari.

Dengki (hasad), kata Imam Al-Ghazali, adalah membenci kenikmatan yang diberikan Allah kepada orang lain dan ingin agar orang tersebut kehilangan kenikmatan itu. Dengki dapat merayapi hati orang yang sakit, karena orang dengki itu merasa lebih hebat, tidak ingin kalah, ingin dianggap  ataupun membesar-besarkan diri. Tidak mungkin seseorang merasa iri kepada orang yang dianggapnya lebih “kecil” atau lebih lemah. Sebuah pepatah Arab mengatakan, “Kullu dzi ni’matin mahsuudun.” (Setiap yang mendapat kenikmatan pasti didengki).

Kita bayangkan seandainya penyakit dengki telah menyebar luas dan setiap orang yang dengki mulai memperdaya setiap orang yang memiliki ni’mat maka pada saat itu tipu daya telah menyebar luas pula dan tidak seorang pun
yang dapat selamat dari keburukannya, karena setiap orang pembuat tipu daya dan diperdaya.

dengki

Bayangkanlah bagaimana jadinya kehidupan manusia pada saat itu. Teori Marksisme dibangun di atas landasan kedengkian lalu menimbulkan pertentangan kelas. Seandainya tidak ada kekuasaan negara di negara Marksisme dan kekuatan jaringan inteljen pasti telah terjadi pertentangan yang tidak ada habisnya akibat penyakit kedengkian. Oleh karena itu, kedengkian merupakan penghancur kehidupan manusia, sebab kehidupan tidak mungkin ditegakkan dengan kedengkian. Sebagaimana kehidupan manusia terancam punah dengan sebab kedengkian, demikian pula kelompok, komunitas atau Jama’ah apa saja terancam pecah akibat penyakit kedengkian.

Kedengkian ini pulalah yang menghancurkan penduduk Madyan sebelum ini dan akan menghancurkan ummat ini, bila penyakit ini dibiarkan berkembang di dalamnya.

Nabi SAW bersabda:

“Telah menyebar di kalangan kalian penyakit ummat-ummat sebelum kalian; kedengkian dan kebencian; dia adalah pencukur, aku tidak mengatakan pencukur yang mencukur rambut tetapi pencukur yang mencukur agama.” (Tirmidzi)

Allah berfirman:

“Dan mereka (ahli kitab) tidak berpecah belah melainkan sesudah datangnya pengetahuan kepada mereka karena kedengkian antara mereka.” (asy-Syura: 14)

Ketahuilah bahwa kedengkian termasuk buah iri hati, sedangkan iri hati termasuk hasil amarah. Jadi, kedengkian merupakan cabang dari cabangnya sedangkan amarah adalah asasnya. Kedengkian juga memiliki sejumlah cabang
yang tercela yang tidak bisa dihitung banyaknya. Tentang tercelanya kedengkian ini terdapat banyak riwayat dari Nabi saw. Di antaranya sabda Rasulullah SAW:

“Kedengkian memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.” (Diriwayatkan Abu Dawud dari Abu Hurairah, dan Ibnu Majah dari hadits Anas)

Nabi SAW bersabda tentang larangan kedengkian dan sebab-sebabnya serta akibat-akibatnya:

“Janganlah kalian saling mendengki, janganlah kalian saling memutuskan hubungan, janganlah kalian saling membenci, janganlah kalian saling memperdaya, dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.”
(Bukhari dan Muslim).

Mari kita sama-sama belajar untuk ikut bahagia ketika melihat saudara kita mendapatkan nikmat yang melimpah dari Allah. Karena setiap manusia sudah mempunyai bagian nikmatnya masing-masing.

Leave a Reply

Your email address will not be published.