Masjid dan Anak-Anak

Kita tentu sepakat bahwa ketika masjid sudah dibangun, tugas selanjutnya adalah memakmurkannya semaksimal mungkin sehingga yang kita banggakan dari masjid kita tidak hanya dari aspek bangunannya yang megah dengan harga yang mahal. Namun yang amat disayangkan justru banyak masjid yang dibangun dengan fisik yang megah, namun hanya sedikit orang yang memakmurkannya seperti yang pernah disinyalir oleh Rasulullah SAW dalam satu hadistnya :

Sungguh akan datang pada umatku suatu masa dimana mereka saling bermegah-megahan dengan membangun masjid tapi yang memakmurkannya hanya sedikit (HR. Abu Daud).

anak masjid

Anak-anak kecil merupakan ssalah satu kelompok jamaah yang harus mendapat perhatian dari jamaah dan pengurus masjid. Karenanya Rasulullah SAW dan para sahabatnya memberi perhatian yang serius terhadap anak-anak agar mereka senang ke masjid dan bisa mengikuti aktifitas kemasjidan dengan sebaik-baiknya. Ada beberapa contoh dalam kehidupan Nabi dan para sahabat dalam menyikapi sikap positif terhadap keikutsertaan mereka di masjid.

  1.  Bermain

Seringkali dunia anak disebut dengan dunia bermain. Ini merupakan momentum yang amat menyenangkan bagi mereka. Kita yang sudah melewati masa anak-anak tentu merasakan kesan yang tidak terlupakan. Ketika Rasulullah SAW sedang berjalan menuju masjid guna menunaikan shalat berjamaah, di tengah jalan didapati beberapa anak-anak itu langsung mengerubunginya, bahkan memegang dan menarik baju beliau. Diantara mereka bahkan sampai mengatakan : “Jadilah engkau untaku”.

Rasulullah SAW melayani ajakan anak-anak itu sehingga beliau agak terlambat datang ke masjid dari biasanya. Bilal bin Rabah yang sudah menunggu kedatangan Rasul di Masjid akhirnya harus mencari dimana Rasulullah berada. Ternyata ia mendapati, beliau sedang bermain dan dikerubungi anak-anak itu. Bilal mendatangi mereka dan bermaksud menjewer telinga anak-anak itu agar mau melepaskan Rasul. Tetapi Rasul mencegah bilal dengan mengatakan : “Sempitnya waktu shalat lebih kusukai daripada harus menyakiti anak-anak ini”.

Nabi Muhammad SAW kemudian memerintahkan Bilal untuk mencari makanan di rumah beliau agar bisa diberikan kepada anak-anak. Bilal segera kembali kepada Rasulullah SAW dengan membawa kacang. Beliau kemudian mengatakan : “Apakah kalian mau menjual unta kalian dengan kacang ini?.”

Anak-anak pun bergembira  dengan mengambil kacang-kacang itu dan melepaskan Rasulullah SAW yang melanjutkan perjalanan menuju Masjid yang diikuti oleh anak-anak itu. Bilal terharu menyaksikan apa yang baru saja terjadi.

2. Shalat sambil Menggendong

Sejak kecil, anak memang sudah harus diperkenalkan dengan masjid dan dibiasakan untuk mendatanginya. Mereka pun senang bila diajak oleh orangtuanya ke masjid, apalagi masjid sangat berbeda dengan rumahnya, masjid terasa luas, bersih dan nyaman. Rasulullah SAW biasa mengajak anak cucunya untuk pergi ke masjid dan ikut shalat di dalamnya tanpa merasa terganggu.

Dalam hadist riwayat An Nasai dari Abu Qatadah, dia berkata : “Ketika kami sedang duduk-duduk di Masjid, tiba-tiba Rasulullah SAW menemui kami dengan membawa Umamah bin abu Ash bin Ar Rabi’ – ibunya adalah Zainab binti Rasulullah SAW, dan dia (Umamah masih kecil – lalu Rasulullah saw shalat dan dia (Umamah) masih dalam gendongannya. Rasulullah SAW meletakkannya ketika beliau ruku dan menggendongnya kembali ketika berdiri, hingga shalatnya selesai dengan melakukan hal seperti itu.”

Apa yang ditunjukkan oleh Rasulullah SAW memberikan pelajaran kepada kita betapa anak-anak jangan kita anggap sebagai pengganggu, karenanya kitapun tidak boleh merasa terganggu oleh mereka, meskipun mereka memang mengganggu karena mereka belum memahaminya.

3. Menertibkan

Menertibkan anak-anak ketika mereka berada di dalam masjid merupakan sesuatu yang amatpenting agar mereka juga bisa melaksanakan adab-adab di masjid. Dalam hadist riwayat Ahmad dari Abu Ayub, dari Abu Hurairah ra. Abu Ayub berkata; “Aku pernah masuk masjid bersama Abu Hurairah di hari Jumat, lalu ia melihat seorang anak kecil seraya berkata;

Wahai anak kecil, pergi dan mainlah.”

Ia menjawab : “aku datang hanya untuk ke masjid.”

Abu Hurairah berkata; “Wahai anak kecil pergilah dan mainlah,”

Ia menjawab: “Aku hanya untuk ke masjid.”

Abu Hurairah berkata : “Kalau begitu hendaklah kamu duduk sehingga imam keluar,”

Ia menjawab : “ya.”

Dengan demikian, anak-anak pun harus dididik komitmennya untuk tertib ketika berada di masjid sehingga tidak
sepatutnya kita mengusir mereka dari masjid.

4. Memberi Sarana Bermain. 

Untuk membuat anak betah dan senang di masjid tanpa menimbulkan
gangguan, memberikan sarana bermain perlu dilakukan. Dalam hadits riwayat Muslim dari Rabi’ binti Mu’awwidz bin Afran ia berkata; Suatu pagi di hari ‘Asyura, Rasulullah saw mengirim petugas ke perkampungan orang Anshar yang berada di sekitar Madinah untuk menyampaikan pengumuman tentang puasa hari Asyura.

Semenjak itu, kami berpuasa di hari Asyura, dan kami suruh pula anak-anak kecil kami. Kami bawa mereka ke masjid dan kami buatkan mereka main-mainan dari bulu. untuk melalaikan mereka (dari rasa lapar) hingga puasa mereka sempurna. Apabila ada yang menangis minta makan, kami berikan setelah waktu berbuka tiba.

Optimalisasi.
Masa anak-anak yang merupakan masa pertumbuhan dan pembentukan pribadi menjadi momentum yang amat penting dalam pembentukan karakter masyarakat dan bangsa ke depan. Karena itu masjid harus mengoptimalkan pembinaan anak-anak dengan beragam akrivitas. Beberapa aktivitas dan materi pelajaran untuk anak-anak dimasjid yang perlu dilakukan penting untuk kita ulas melalui tulisan ini.

Pertama pengajian baca tulis Al-Qur’an. Setiap anak muslim hargs bisa baca tulis Al-Qur’an, karena itu disetiap
masjid harus diprogramkan pengajian anak-anak untuk bisa membaca dan menulis Al-Qur’an. Untuk itu, perlu dilakukan pendataan jumlah anak-anak dan cek satu persatu siapa yang sudah bisa baca dan belum bisa, atau seberapa bagus kemampuan membacanya untuk selanjutnya dikelompokkan sesuai dengan tingkat kebutuhannya.

Kedua, pembinaan aqidah, ibadah dan akhlak. Materi pelajaran yang harus mendapat penekanan kepada anak-
anak adalah aqidah, ibadah dan akhlak. Aqidah dimaksudkan agar anak-anak memiliki keyakinan yang kuat kepada Allah swt sebagai Tuhan dan mau terikat kepada-Nya. lbadah dimaksudkan agar anak memahami keharusan
beribadah dan mengerti tata cara serta hikmahnya seperti shalat, puasa, zakat, dan haji. Adapun akhlak dimaksudkan agar anak-anak memiliki akhlak dan adab seperti akhlak kepada orang tua,tamu, tetangga dan sebagainya, adab makan dan minum, tidur, berpakaian dan sebagainya, serta sifat mulia seperti jujur, sabar, istiqamah dll.

Ketiga, kisah Nabi dan Sahabat serta kisah-kisah kejadian yang bisa diambil hikmahnya. Salah satu cara mendidik dan berdakwah, apalagi pada anak-anak adalah dengan bercerita sehingga menanamkan nilai-nilai kebaikan dan kebenaran bisa Iebih meresap di dalam hati dan pikiran. Karena itu penting bagi mereka memperoleh kisah-kisah teladan agar bisa diteladani dalam kehidupan dan pertumbuhan serta pembentukan karakter pribadi.

Keempat, kegiatan lomba, bagi anak–anak ini merupakan sesuatu yang sangat penting, selain untuk mengetahui seberapa besar kemampuan dan pemahaman dari sisi agama, yang sangat penting adalah membangun mental beragama yang kuat. Lomba cerdas cermat, tahfidz al Quran, tilawahal Quran, shalat berjamaah, adzan,
dan pidato dakwah merupakan diantara jenis Iomba yang penting untuk dikembangkan.

Manakala sejak dini anak-anak sudah senang ke masjid, harapan kita adalah mereka tumbuh hingga dewasa
dalam beribadah kepada Allah swt. Bila sudah demikian, masa depan pemakmuran masjid tidak perlu kita khawatir-
kan. Dalam konteks inilah, pengurus masjid harus menyadari betapa penting bersikap ramah kepada anak-anak
yang datang ke masjid, mengarahkan danmembina mereka dengan sebaik-baiknya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.