Seorang Pendiri Nike – Bill Bowerman

lnovasinya untuk Para Pelari Mendorong Berdirinya Sebuah Kerajaan Bisnis

 

Pelatih lari Bill Bowerman sedang sarapan pagi pada suatu hari di tahun 1971 ketika istrinya, Barbara, membuka cetakan kue waffle untuk menuangkan adonan.

Saat itu Bowerman sedang terus-menerus mencari cara untuk membantu para atletnya berkembang. Lalu, sebuah gagasan muncul di benaknya. jika ia mencampur karet sintetis, menuang-kan ke belakang cetakan kue Wafel dan didinginkan maka ia dapat membuat sol sepatu yang lebih baik untuk sepatu lari.

Butuh usaha keras dan tangan terkilir ketika ia mcngeluarkan karet dari cetakan kue, tulis Bowerman, salah seorang pendiri Nike Inc., dalam majalah Guideposts pada bulan januari 1988. Tctapi, kctika ia akhirnya melakukannya, ia menyulap sol sepatu ringan yang pertama, sol waffle, yang benar-benar mengubah sepatu lari. Saat ini, setiap pembuat sepatu atletik mcnggunakan sol Waflle atau seclikit variasi untuk alas sepatu, mulai dari sepatu untuk lari hingga sepatu panjat tebing.

Biografi-Bill-Bowerman

Bowerman (1911-4999), aclalah kepala pelatih olahraga lari, lompat, dan lempar di university of Oregon di Eugene dari tahun 1948-1972. Ia adalah orang yang sangat kompetitif pada waktu yang sama, senang dengan fisiologi. Dalam
mempelajari dinamika berlari, ia melihat bahwa sepatu yang dipakai para pelari umumnya tidak praktis.

Pada akhir tahun 1950-an, ia rnerancang sebuah sepatu dengan bantalan tumit, pendukung yang lebih baik, dan sol yang lebih ringan. Namun ada satu masalah. Ia tidak dapat menemukan sebuah perusahaan yang mau membuat jenis sepatu ini. Sekalipun merasa kecewa, Bowerman terinspirasi oleh pesan yang sering kali ia gunakan kepada tirnnya. “Kekalahan bisa menjadi awal yang sesungguhnya,” katanya kepada timnya. Ia pun memutuskan untuk membuat sepatu sendiri. Bowerman menguji rancangannya kepada seluruh anggota tim, termasuk Phil Knight, yang kini menjadi direktur dan Chief Executive Nike. Setelah itu, Bowerman akan duduk di dalam garasinya dan bereksperimen dengan rancangan sepatunya, yang membuat seluruh anggota timnya merasa senang memakai
rancangannya itu.  Ia membayangkan bahwa orang lain juga akan merasa berbahagia memiliki sepatu tersebut. Pada tahun 1964, ia dan Knight membentuk tim untuk mendirikan perusahaan Blue Ribbon Sports Inc. Pada tahun 1972, pasangan ini memulai merek Nike untuk sepatu rancangan Bowerman. Pada tahun tersebut, empat dari tujuh atlet lari yang berhasil menyelesaikan lari maraton di Qlimpiade memakai sepatu Nike. Perusahaan itu kemudian berganti nama menjadi Nike Inc. pada tahun 1980, ketika perusahaan itu go publik. Perusahaan ini meraup pendapatan miliaran dolar pada tahun 1986. Nike, yang berbasis di Beaverton, Oregon, memasarkan produknya di
lebih dari 100 negara, dan merupakan perusahaan olahraga, dan kebugaran nomor satu dalam pangsa pagar dam pfinjualan, Sekitar $9 miliar pada tahun 2000. Pada saat itu, produksi Nike menguasai lebih dari 40% dari seluruh penjualan sepatu atletik di AS.

Inspirasi dan standar tinggi Bowerman memainkan peran besar dalam mengangkat Nike ke posisi atas. “Bowerman memiliki fokus untuk memecahkan masalah clengan atlet dan kemudian terus berjalan,” kata Geoff Hollister, manajer pemasaran Nike, yang dilatih oleh Bowerman saat ia kuliah di University of Oregon.

Knight, yang hebat di bidang pernasaran, adalah seorang pakar dalam mernbuat solusi bagi Bowerman dan memasarkan sepatu itu secara massal.

Tetapi, Bowerman lebih dari sekadar seorang perancang sepatu yang inovatif. Ia termasuk salah satu pelatih lari terhebat di AS. Ia telah melatih 24 orang juara lari perseorangan National Collegiate Athletic Association (NCAA), sebuah organisasi atletik tingkat perguruan tinggi nasional di AS, empat tim juara NCAA serta 64 tim olahraga lari, lompat, dan lempar nasional Amerika dan Olimpiade tahun 1972.

Selain menyukai bidang olahraga lari, ia ingin agar orang lain merasakan kesenangan yang sama, Ia memulai pelatihan  joging clan mendorong orang untuk tetap bugar melalui olahraga joging. Untuk membangkitkan minat masyarakat, ia menulis buku berjudul jogging pada tahun 1967, yang menekankan berbagai  kesenangan dan keuntungan dari olahraga tersebut. Buku itu ikut mengangkat olahraga joging sebagai salah satu jenis olalraga
kebanggaan di Amerika kala itu.

Berbagai aksi yang dilakukan Bowerman, “semuanya didorong untuk membantu kita melakukan sesuatu dengan lebih baik dan membantu kita mencapai tingkat maksimum,” kata Hollister. Dorongan ini menggerakkan Bowerman untuk melakukan eksperirnen clan menciptakan inovasi. Ia ikut membantu pengembangan aspal bercampur karet untuk jalur jalan yang akan dipakai olahraga atletik. Campuran aspal karet itu membuat permukaan bumi lebih aman dilalui ketimbang rerumputan, terutama ketika. hujan. Ia memastilmn agar timnya rnemakai pakaian dari bahan yang, sebisa mungkin paling ringan, termasuk kaus.Tetapi fokusnya adalah sepatu. “Sepatu Yang dirancang dengan buruk, saya kira, dapat menyebabkan lebih banyak luka di telapak kaki, kaki kram, dan lutut serta nyeri di punggung ketimbang oleh hal lain yang saya ketahui,” katanya kepada Guideposts.

Tujuannya adalah untuk membuat sepatu lari yang lebih ringan. Ia memperhitungkan bahwa untuk setiap ons yang
diambil dari berat sepatu, maka 200 pound secara kumulatif akan terangkat dari seorang pelari selama lomba lari sejauh satu mil. Pada saat ia mengembangkan sol Waffle, tujuannya adalah untuk  membuat sepatu joging yang lebih baik, yang lebih ringan, memiliki kekuatan tarik yang bagus, dan pola yang antiselip.

Bowerman terus mengejar pembuatan sepatu dengan kualitas yang lebih baik. Di Nike, “Ia sangat sadar akan kualitas,” ungkap Knight kepada The (Portland) Oregonian, ” dan hal-hal lain yang berlaku untuk saat ini.”

Untuk memastikan agar pedomannya tentang kualitas dipatuhi, Bowerman akan mengajarkan hal itu dalam setiap
pertemuan dewan. “Saya dulu merasa tersinggung ketika ia banyak meng-kritik,” kata Knight. “Berulang kali, pertemuan dewan jadi terasa sedikit menyakitkan karna ia mengintrupsi dengan mengatakan bahwa suatu produk berkualitas buruk.” Tetapi, pada akhirnya Knight sadar bahwa Bowerman adalah aset paling berharga untuk Nike. Ia berpegang teguh pada apa yang diyakininya, dan iayakin bahwa perusahaan harus terus memperbaiki diri untuk tetap mcnjadi yang terdepan.

Bowerman, yang disebut sebagai pahlawan oleh Knight, adalah seorang pemimpin dan guru paling hebat dari semua guru. Bowerman paling tidak suka disebut sebagai pelatih dan bersikukuh agar semua atletnya mcmanggilnya Bill. Pendidikan  prioritas nomor satu dan pelatihan adaiah prioritas nomor dua.

“Pertama kali saya bertemu dengan Bowerman, ia menyatakan bahwa ia menganggap dirinya sebagai seorang
pendidik untuk olahraga lari dan bagaimana melanjutkan hidup,” kata Wade Bell, seorang akuntan publik berijazah yang pernah dilatih Bowerman sejak tahun 1964»-1968. Bell menjadi juara lari setengah mil tingkat Nasional. Bowerman melatih dcngan memberi contoh. Ia mengajari para atlet dan timnya di Nike untuk menerima kenyataan ketika mereka dikalahkan dan kemudian mengangkat mereka mereka kembali sehingga mereka dapat bekerja lebih keras untuk hari yang lebih baik.

Ia memiliki keingintahuan yang tidak terpuaskan dan pikiran yang merasa adanya jurang pemisah dalam kemajuan
berbagai temuan manusia, tulis ].B. Strasser dan Laurie Becklund dalam Swoosh: The Unauthorized Story of Nike and the Men Who Played There.

Ia memiliki cara yang berbeda dalam mengajari seluruh anggota timnya. Ia menggunakan kamera bekas tentara untuk mengambil gambar para atlet terkenal, kebanyakan saat berada di lapangan. Kemudian, ia akan memutar film itu bersama-sama sehingga ia dapat menunjukkan sebuah teknik yang digunakan seorang atlet berulang kali.

Ia memasang sebuah kamera di garis finis dan memasang mang gelap portabel dillapangan untuk memproses foto
foto dari Bowerman mencoba membuat setiap atlet merasa istimewa. Ia membiasakan setiap anggota tim untuk mencoba sebuah rencana yang stratcgis. Ia akan duduk bersama setiap pelari pada awal tahun dan berbicara tentang tujuan, ujar Bell. Di atas kertas, la membuat peta rencana setiap bulan, menggambarkan waktu yang harus dilalui seorang pelari pada setiap titik waktu.

Setiap senin, ia akan memberikan jadwal latihan selama seminggu kepada setiap atlet di pintu ruangan penyimpanan, jadwal itu dibuat berdasarkan pada tujuan mereka sehingga atlet tidak akan merasa bingung dalam melakukan latihan.

la tak pernah membiarkan atlernya mengikuti pertandingan tanpa sebuah perencanaan yang tapat tentang
bagaimana berlari untuk setiap putaran. Bowerman memerintahkan para pelarinya untiuk menguji lapangan guna mempersiapkan mereka secara psikologis untuk mcngikuri pertandingan.

Cara ini memberikan kepercayaan pada mereka dalam hal kecepatan dan akselerasi berlari. Ia juga mengajari para atletnya untuk menaksir dan menaksir kembali setiap aspek dari kinerja mereka dan kinerja para pesaing mereka, tulis Strasser dan Becklund. Ia memberitahu mereka bahwa setiap kelemahan pada scorang lawan dapat berarti
sebuah keuntungan. “Kemenangan adalah berbuat yang terbaik yang Anda mampu, dan bahkan sekalipun Anda kalah, Anda berarti telah mempelajari sesuatu,” katanya. Ia tahu betapa pentingnya untuk tidak menghabiskan
seluruh energi seseorang di satu tempat. Ia bersikukuh agar para atlet tidak sampai mengalami cedera selama latihan dan menyimpan kekuatan untuk pertandingan penting. Filosofinya adalah untuk berlatih keras pada satu hari, berlatih ringan pada; hari berikutnya, dan kemuclian berlatih keras kembali’

Bowerman menggunakan visualisasinya untuk mem-bayangkan bagaimana mencapai tujuannya. Kemudian, ia
me-minta para atlet dan karyawannya untuk mglakukan-hal yang sama.

 

Sumber : Successful Bussiness Leader.

Leave a Reply

Your email address will not be published.