Membina Keluarga Sakinah

Yang dimaksud dengan “membina” disini adalah segala upaya pengelolaan atau penanganan berupa : merintis, meletakkan dasar, melatih, membiasakan, dan memeihara, mengawasi, mencegah, menyantuni, mengarahkan serta mengembangkan kemampuan suami istri untuk mewujudkan keluarga sakinah dengan mengadakan dan menggunakan segala daya upaya dan dana yang dimiliki.

pernikahan

Sedangkan keluarga merupakan masyarakat terkecil sekurang-kurangnya terdiri dari pasangan suami-istri sebagai sumber intinya berikut anak-anak yang lahir dari mereka. Jadi setidak-tidaknya keluarga adalah pasangan suami-istri, baik yang mempunyai anak atau tidak mempunyai anak (nuclear family).

Keluarga yang dimaksud adalah suami-istri yang terbentuk melalui perkawinan. Maka hidup bersama seseorang pria dengan seorang wanita tidak dapat dinamakan “keluarga” jika keduanya tidak diikat oleh perkawinan. Karena itu perkawinan diperlukan untuk membentuk keluarga.

Istilah sakinah merupakan rasa tentram, aman, dan damai. Seseorang akan merasakan sakinah apabila terpenuhi unsur-unsur hajat hidup spiritual dan material secara layak dan seimbang. Sebaliknya apabila sebagian atau salah satu dari yang disebutkan tadi tidak terpenuhi maka orang tersebut akan merasa kecewa resah dan gelisah. Apabila unsur-unsur tersebut tidak terpenuhi maka orang mudah sekali menjadi putus asa dan tidak jarang ada yang mengambil jalan pintas dengan cara mengakhiri hidupnya.

Hajat hidup yang diinginkan dalam kehidupan duniawiyah seseorang meliputi kesehatan, sandang, pangan, papan, peguyuban, perlindungan hak asasi, dan sebagainya.

Seseorang yang sakinah hidupnya adalah orang yang terpelihara kesehatannya, cukup sangang, pangan, dan papan, diterima dalam pergaulan masyarakat yang beradab, serta hak-hak azasinya terlindungi oleh norma agama, norma hukum, dan norma susila.

Dengan demikian dapat dirumuskan pengertian Keluarga Sakinah adalah keluarga yang dibina atas perkawinan yang sah, mampu memenuhi hajat hidup spiritual dan material secara layak dan seimbang, diliputi suasana kasih sayang antar anggota keluarga dan lingkungannya dengan selaras, serasi, serta mampou mengamalkan, menghayati, dan memperdalam nilai-nilai keimanan, ketaqwaan dan akhlak mulia.

 

Sumber : BP4 Provinsi DKI Jakarta 2009

Leave a Reply

Your email address will not be published.