lnovasi dan Ketekunan Melahirkan Keajaiban – Walt Disney

Walt Disney merasa kecewa meski tidak putus asa. Peristiwa itu terjadi pada tahun 1928, dan animator kartun berusia 26 tahun ini sedang naik kereta api kembali ke California setelah perjalanan yang melelahkan menuju New York City. Distributornya yang licik baru saja mengambil alih seluruh hak untuk karakter Disney yang pertama, Oswald the Lucky Rabbit, dan merekrut seluruh animator terbaik Disney dalam proses itu.

disney

Sekalipun studionya dibiarkan kosong tanpa staf dan dalam keadaan berutang. Diney tidak mau mengakui kekalahan itu. Sebaliknya ia bersumpah untuk memulai apa yang ia miliki, yaitu bakatnya. Ketika kereta melewati wiliayah Midwest, Disney mulai menggambar sketsa diatas selembar kertas. Beberapa saat kemudian, Disney baru sadar bahwa coretan gambarnya itu mirip seperti seekor tikus.

“Bagaimana kalau diberi nama Mortimer Mouse?” Tanya Disney kepada istrinya, Lilly.
“Mortimer?” jawab Lily sambil mengerutkan kening. “Bagaimana kalau Mickey?”.  Disney (1901–1966) telah menciptakan Mickey Mouse, tokoh kartun paling populer di dunia, pada saat masa depannya
terlihat suram. “Walt tidak pernah berpikir bahwa ia dikalahkan oleh sesuatu,” kata Lilly di kemudian hari dalarn The Man Behind the Magic: The Story of walt Disney, karya Katherine dan Richard Greene.
Ketekunannya telah membawanya mencapai prestasi terbesar dalam dunia animasi kartun. Selama kariernya lebih dari 40 tahun, studio Disney membuat standar untuk berbagai film animasi dan keluarga serta memenangkan 48 Academy Awards. Perusahaan Warisannya selanjutnya disebut sebagai The Walt Disney Co.

Ayahnya yang disiplin dan pekerja keras, sementara ibunya yang menyenangkan telah mernberikan sifat awal yang
dibutuhkan Disney. Ketika masih kecil, Walt selalu menggambar kapan pun ia memiliki kesempatan dan orangtuanya ikut mendorongnya. Ia menggambar binatang di atas kertas toilet dan hampir di seluruh
bagian pinggir buku tulisnya penuh dengan gambar-gambar kartun. Ketika guru membiarkannya, Disney menggambar di atas papan tulis dan menceritakan kisah berdasarkan gambar itu kepada teman-ternan sekelasnya.

Saat bekerja untuk Red Cross Ambulance Corps pada  Perang Dania I di Prancis, DIsney mempraktikkan keterampilannya dengan mendekorasi jaket teman-temannya dengan medali  palsu dan membuat lukisan diatas helm agar terlihat lebih seram  untuk pertempuran.

Sebagai anggora unit Disney, Ray Kroc (Yang kemudian mendirikan McDonald’s Corp.) mengenang Disney yang dipandang “sebagai seekor bebek aneh karena kapan pun kami memiliki waktu luang dan pergi ke kota untuk memburu para gadis, ia tetap tinggal di rumah kemah untuk menggambar.
Waktu yang dihabiskannya untuk menggambar akhirnya terbalas. Ia menjadi penuh percaya cliri setelah melewati latihan. Pada saat ia kembali ke AS pada tahun 1919, Disney yang berusia 18 tahun itu sudah siap untuk membuka bisnis seni komersialnya yang pertama kali di Kota Kansas, negara bagian Missouri.

Namun demikian, Disney saat itu hanya tahu sedikit tentang bisnis. Studio itu ditutup setahun kemudian, meski studio itu telah membuatnya berada cli arah kehidupan yang benar. la bekerja sebagai seorang pembuat animasi untuk sebuah studio kartun pada tahun 1920. Selama itu, Disney terus berupaya untuk membuat peningkatan pada cara memfilmkan cerita kartun. Untuk menguji idenya, ia membujuk atasannya untuk membiarkannya meminjam sebuah kamera film selama jam istirahatnya. Disney membawa kamera film itu ke garasi ayahnya dan mencoba berbagai teknik baru, seperti penggunaan gambar untuk kerangka filmdan bukannya potongan kertas standar.

“Bukannya mundur ketika orang lain bereksperimen,” tulis Greenes, “Intuisi Disney memberitahunya bahwa adalah hal yang vital untuk mendahului mereka.”

Ketika membuka Disney Bros, sebuah studio bersama saudara kandungnya, Roy, pada tahun 1923, Walt menetapkan sebuah pola untuk terus maju, bahkan sekalipun hal itu berarti menempatkan masa depan perusahaan dalam keadaan bahaya. Begitu keuntungan diperoleh, Disney menghabiskannya untuk inovasi. Pertama adalah penambahan suara untuk karya kartunnya, dan kemudian penambahan Warna.

Lalu, Disney melakukan lompatan besar dalam kepercayaan. Ia tahu bahwa orang menyukai kartun. Mengapa tidak memproduksi cerita animasi yang panjang?

Ide itu membuat para distributornya merasa khawatir untuk meninggalkan formula yang selama ini sudah sukses. Para anggota keluarga khawatir jika pertaruhan itu akan menghilangkan keuntungan. Disney mengabaikan mereka semua. la bersikukuh bahwa jika mereka ingin maju, mereka harus melangkah lebih jauh ketimbang yang sudah mereka lakukan.

Ia merilis Snow White and the Seven Dwars pada tahun 1937 Produksinya itu langsung melejit.  “Di sini ada kartun, dan cli sini ada penonton yang menangis,” kata animator Disney, Ward Kimball dalam Walt Disney A Bio-Bibliography karya Kathy Merlock Jackson. “Para  bintang film terbesar yang hadir dalam malam perdana pertunjukan, semuanya menangis.”

Disney menganggap berbagai kritikan kepaclanya sebagai tantangan untuk membuktikan bahwa dirinya benar. Pada tahun 1934, ketika berbagai kritik berargumen bahwa para penonton tidak akan bisa ducluk tenang untuk menonton film animasi berdurasi panjang, Disney mengarahkan beberapa artis menujii panggung yang kurang diterangi cahaya penerangan. Lalu, ia seorang diri memainkan peran untuk Snow White, dan berhasil mendapatkan dukungan penonton setelah dirinya memerankan setiap karakter dalam cerita itu.

Disney percaya bahwa jika ia membuat sebuah proyek sebaik yang ia mampu maka orang akan menyukainya, dan keuntungan pada akhirnya, akan muncul.

“Jika Anda ingin tahu rahasia sejati dari kesuksesan Disney,” kata Kimball, “adalah ia tidak pernah mencoba untuk menghasilkan uang.”

Disney memiliki sebuah visi: sebuah taman hiburan Disneyland tempat seluruh icle dan karakternya  apat diwujudkan secara nyata.

Namun, pada tahun 1950-an, sejumlah pemilik taman hiburan memberitahu bahwa idenya itu tidak bisa diterima akal sehat. Disney mempercayai idenya dengan keyakinan yang mantap. Ia meminjam uang sebanyak $100.000 dengan jaminan asuransi hidupnya, menjual rumah liburannya di Palm Spring, California, dan mulai mengumpulkan uang melalui serial televisi Disneyland pada jaringan stasiun ABC.

“Saya hanya berfikir tentang uang dalam satu cara,” aku disney,” dan cara itu adalah mengerjakan sesuatu. Saya menginvestasikan kembali segala sesuatu yang saya buat ke dalam perusahaan. Saya melihatnya dengan cara ini: jika saya ridak dapat menggunakan uang itu sekarang, jika saya tidak bisa bersenang – senang dengan uang itu, saya tidak akan bisa membawanya bersama saya.”

Ia mengetahui bahwa pekerjaannya hanya dapat meningkat jika ia memperbaiki diri sendiri, “Kesenangan terbesar Disney adalah melihat hal-hal baru dan berbicara dengan orang yang menarik minatnya,” papar Greenes. “Apakah ia berbicara dengan seorang ilmuwan atau seorang penyapu jalanan, ia selalu mengajukan serangkaian pertanyaan sampai ia memiliki pengetahuan tentang bagaimana mereka melakukan pekerjaan mereka. Membunyikan peluit kereta bisa membuar Walt lebih berbahagia ketimbang mengumpulkan piala Oscar.”

Jenis keingintahuan seperti itu sudah dirasakan oleh setiap orang yang bertemu dengan Disney. Sekalipun susunan tata bahasa, ejaan, dan pengucapannya kerap kali kurang baik, banyak orang menilai Disney sebagai salah satu pria paling berpendidikan yang pernah mereka jumpai.

“Keingintahuan membawa kita pacla jalan yang baru,” kata Disney.

Sekalipun rnenuntut prestasi yang terbaik dari para karyawannya, Disney mencoba memahami sudut pandang mereka. Ketika seorang artis unruk Fantasia mengeluh tentang perannya dalam sebuah adegan karena ia tidak rnenyukai tari balet, Disney memberinya sebuah tiket pertunjukan balet terkenal dan mengirimnya ke belakang panggung untuk bertemu para penari. Orang itu itu akhirnya sadar bahwa ia menyukai balet dan kembali terjun dalam proyek itu.

Untuk memperkokoh ikatan yang lebih erat dengan para karyawannya, Disney meminta agar mereka memanggilnya dengan nama depannya (Walt0. Ia juga mampir ke meja kerja para karyawan untuk mengamati perkembangan mereka. Sepanjang mereka mampu menghasilkan karya yang bagus, ia bersedia menolerir apapun kecuali kemalasan, ketidakjujuran, atau sikap negatif lain.

“Jika ia merasa tidak enak,” kata Disney kepada seorang karyawannya, “ia tidak semestinya bekerja di sini. Kita menjual kebahagiaan.’

Sadar akan pentingnya detail, Disney memberi waktu hampir enam bulan untuk menyelesaikan barisan Snow White selama tiga menit di mana para kurcaci menyanyikan “Heigh-Ho” ketika berjalan meiintasi hutan. Ketika Disney melihat pipi Snow White itu terlalu pucat, ia memerintahkan orang-orang yang bertugas memberi warna untuk kembali dan menambahkan pemerah pipi untuk puluhan ribu gambar, sekaiipun film itu hampir dipasarkan di teater-teater.
“Disney hanya memiliki satu aturan,” kata seorang animator “apa yang kami kerjakan harus lebih baik ketimbang yang dapat dilakukan orang lain.”

Leave a Reply

Your email address will not be published.