Mendobrak Tembok Penghalang Kreativitas

entrepreneur-illustration

“Ada 10 Gembok Mental yang membatasi kreatifitas individu – Roger von Oech”

 

Sejumlah penghalang menuju kreativitas diantaranya adalah tekanan waktu, manajemen yang tidak mendukung, para pekerja yang pesimis, kebijakan perusahaan yang kaku, serta masih banyak lagi yang lainnya. Di dalam buku A Whack on the Side of the Head, Roger von Oech mengidentifikasi sepuluh “gembok mental” yang akan membatasi kreativitas individu:

 

1.      Mencari satu jawaban yang benar

Seringkali di dalam sistem pendidikan disebutkan bahwa hanya ada satu jawaban benar untuk sebuah permasalahan. Karena itulah, setelah empat tahun kuliah dan menyelesaikan sekitar 2600 tes, sudah menjadi kebiasaan di dalam cara berpikir mereka untuk menemukan satu jawaban untuk satu soal. Padahal, di dalam realitasnya, banyak permasalahan yang bersifat ambigu. Tergantung kepada pertanyaan yang ditanyakan, maka terdapat lebih banyak jawaban yang benar.

 

2.      Fokus kepada hal-hal yang logis

Logika menjadi bagian penting di dalam proses kreatif, khususnya ketika mengebaluasi ide dan melaksanakannya. Tapi, fase imajinatif di dalam proses tersebut, pemikiran logis bisa menghambat kreativitas. Terlalu fokus hanya kepada hal-hal yang logis akan melemahkan penggunaan dari salah satu kreasi kuat dari otak, yaitu intuisi. Von Oech menasehati kita agar selalu “berpikir sesuatu dengan cara yang berbeda”, serta menggunakan cara berpikir non-logis secara bebas, khususnya ketika berada pada fase imajinatif di dalam proses kreatif. Intuisi, yang merupakan akumulasi pengetahuan dan pengalaman di sepanjang hidup seseorang, bisa saja dibuka. Penggunaannya sangat penting di dalam proeses kreatif karena ia mampu membuat kita memiliki asumsi di luar batasan yang bisa membatasi kreativitas dan inovasi.

 

3.      Mengikuti Aturan secara Buta

Saat masih mudah, kita belajar untuk “tidak mewarnai melebihi batas garis dari suatu gambar”, dan kita menghabiskan sisa hidup kita untuk mengikuti aturan secara buta. Biasanya, kreativitas jutru bergantung kepada kemampuan kita untuk melakukan dobrakan terhadap aturan yang sudah ada sehingga kita mampu melihat cara-cara baru untuk melakukan banyak hal.

 

4.      Selalu bersifat Praktis

Memikirkan jawaban yang tidak bisa dijalankan untuk pertanyaan, “Apa yang terjadi jika…” bisa menjadi batu loncatan menuju ide-ide yang kreatif. Ketika untuk sementara memikirkan hal-hal yang dianggap tidak bisa dilakukan terkadang memberikan kebebasan kepada pikiran untuk memikirkan solusi yang kreatif.

 

5.      Menganggap Permainan sebagai Hal yang Sembrono

Memiliki jiwa bermain merupakan hal mendasar untuk mendapatkan cara berpikir yang kreatif. Ada hubungan yang erat antara “Hahaha” di dalam humor dengan “Aha..” ketika menemukan sesuatu. Permainan memberikan kita peluang untuk menciptakan kembali realitas dan menformulasikan kembali cara-cara yang sudah ada untuk melakukan sesuatu. Anak-anak bisa bermain, dan begitu juga pengusaha. Lihatlah anak kecil ketika bermain. Mereka akan memiliki permainan baru untuk benda yang sudah lama serta mempelajari apa yang terjadi di dalam permainan mereka.

Pengusaha juga bisa mendapatkan keuntungan dari cara bermain yang dilakukan oleh anak-anak. Mereka bisa melakukan pendekatan baru dan menemukan apa yang terjadi dan apa yang tidak terjadi. Kreativitas akan dihasilkan ketika pengusaha mengambil apa yang sudah diperolehnya dari permainan, mengevaluasinya, dan mengkoordinasikannya dengan pengetahuan lain, serta meletakkannya untuk bisa dipraktikkan. Para pekerja yang memiliki keceriaan saat menyelesaikan permasalahan memungkinkan untuk bisa menemukan solusi yang kreatif.

 

6.      Menjadi terlalu Spesial

Mendefinisikan masalah sebagai salah satu dari “pemasaran” atau “produksi” atau di wilayah spesial hanya akan membatasi kemampuan untuk bisa melihat bagaimana semua itu bisa saling berkaitan. Para pemikir yang kreatif akan cenderung melihat ide-ide di luar wilayah kekhususan. Ide tentang deodorant roll-on sebetulnya muncul dari  sifat pena ball point.

 

7.      Menghindari Ambiguitas

Ambigu bisa menjadi stimulus yang kreatif dan luar biasa; ia akan mendorong kita untuk “berpikir sesuatu dengan cara berbeda.” Setidaknya, ambigu akan membuat kita cenderung berpikir dua langkah berbeda dalam waktu yang sama, dan ini adalah langkah menuju kreativitas. Kondisi yang ambigu akan membuat kita berpikir lebih keras melampaui batasan normal dan memikirkan pilihan-pilihan ambigu pada waktu yang bersamaan. Walaupun ambigu bukanlah elemen yang diinginkan ketika pengusaha sedang mengevaluasi dan mengimplementasikan ide, tapi ia bisa menjadi alat yang berharga ketika pengusaha sedang mencari ide-ide dan solusi-solusi yang kreatif. Pengusaha biasanya menanyakan sebuah pertanyaan lalu mendapatkan sebuah jawaban untuk kemudian mencari jawaban-jawaban lain yang memungkinkan. Hasilnya, mereka akan selalu menemukan peluang bisnis dengan menciptakan situasi-situasi yang ambigu.

 

8.      Takut Terlihat Bodoh

Berpikir kreatif tidak memiliki tempat untuk melakukan penyesuaian. Ide-ide yang baru jarang muncul dari kondisi lingkungan yang sesuai. Masyarakat cenderung menyesuaikan diri karena mereka tidak ingin terlihat bodoh. Perbuatan bodoh adalah perbuatan yang mendobrak kebiasan dan aturan lama. Pengusaha adalah orang yang “bodoh” karena mereka seringkali mempertanyakan dan menantang cara-cara lama untuk menjalankan sesuatu. Menurut Schumpeter, “fungsi dari pengusaha adalah melakukan reformasi atau revolusi terhadap pola produksi dengan cara melakukan teknologi yang kemungkinan belum dicoba untuk menghasilkan komoditas baru dan memproduksi yang lama dengan cara yang baru, dengan cara membuka suplai materi yang baru untuk produknya. Pendeknya, pengusaha akan melihat cara lama dan bertanya, “Apakah ada cara yang lebih baik lagi?”. Ia akan mendobrak cara lama, dan menciptakan cara baru.

 

9.      Takut Salah dan Takut Gagal

Mereka yang kreatif pasti menyadari bahwa mencoba sesuatu yang baru pasti akan menemukan kegagalan; tapi mereka tidak menganggap kegagalan sebagai akhir dari segalanya. Ia merupakan gambaran dari pengalaman pembelajaran tentang jalan menuju kesuksesan. Kegagalan adalah tanda bagi pengusaha untuk merubah arah tindakannya. Entrepreneurship adalah tentang peluang untuk gagal. Banyak pengusaha yang gagal berkali-kali sebelum akhirnya mereka mendapatkan kesuksesan. Hal itu karena mereka tidak takut salah dan tidak takut gagal.  Kuncinya adalah mereka melihat kegagalan sebagai suatu peluang untuk belajar bagaimana agar bisa sukses. Pengusaha uang menerima kegagalan dan belajar dari kegagalan akan muncul sebagai orang sukses dari apa yang sudah dia coba. Pengusaha sukses akan menyamakan kegagalan sebagai inovasi bukan kekalahan.

 

10.  Percaya bahwa “Saya tidaklah Kreatif”

Sebagian orang membatasi diri mereka sendiri karena mereka percaya bahwa kreativitas itu hanya dimiliki oleh Einstein, Beethovens, dan Da Vinci. Sayangnya, kepercayaan semacam ini menjadi hal yang sudah tertanam kuat di dalam diri. Mereka yang percaya bahwa dirinya tidak kreatif pasti akan berperilaku dengan menggunakan cara dimana dia akan mengarah kepada kondisi dirinya yang tidak kreatif. Sedangkan mereka yang menganggap dirinya jenius, bervisi, dan pembaharu, biasanya tidaklah lebih pintar atau lebih kreatif dibanding orang rata-rata; tapi mereka selalu belajar bagaimana caranya berpikir secara kreatif sehingga dengan ketekunannya ia pun akhirnya mendapatkan kesuksesan.

Begitulah, ketika pengusaha menghindari kesepuluh mental blok tersebut, ia akan mampu mendapatkan kreativitasnya sendiri dan membuat orang-orang di sekitarnya juga menjadi kreatif. Dengan keberanian untuk mengambil resiko, mengambil ide baru, memainkan sedikit, dan bertanya “apa yang terjadi jika…?” serta belajar mengapresiasi ambiguitas, maka mereka akan mengembangkan skill, sikap, dan motivasi yang akan membuat mereka menjadi lebih kreatif. Ini adalah salah satu kunci keberhasilan di dalam entrepreneurship.

Leave a Reply

Your email address will not be published.