Kasihku Ariesa

Wah memboyong artikel lama ke blog baru. Ini sangat penting karena cerpen ini dibuat dalam rangka persyaratan Ujian Sekolah sewaktu saya SMA. Temanya tentu anak muda banget.  Tentang cinta. Kenapa nama tokohnya itu sebenarnya ada rahasianya, tapi kalau dibeberkan disini bukan rahasia lagi namanya :D. Banyak yang bilang cerpen ini lebay, haha. Parahnya lagi cerita ini dibacakan di depan kelas 😀 :D. Langsung deh gak usah banyak basa-basi 😀

 

Aku Tyo mahasiswa fakultas sastra Inggris di salah satu pergurusan tinggi swasta di Jakarta. Aku cerdas, maka tak heran kini aku menjadi asisten dosen. Akupun mendapat beasiswa, yang berarti secara materi aku telah meringankan beban orang tuaku dalam membiayai pendidikanku.

Aku orang yang sederhana. Berbeda dengan kebanyakan teman-temanku yang selalu hidup berhura-hura. Aku mengerti itu karena mereka memiliki segalanya. Diantara teman sekuliahanku yang lainnya,Ariessa adalah seorang gadis yang paling menonjol dan berpengaruh di kalangan kampus. Ariessa adalah seorang yang gadis yang menawan, apalagi dia adalah seorang model. Sudah tentu dari segi fisik, Subhanallah, maha karya Yang Maha Agung. Tak heran dia memiliki banyak penggemar.

 

Namun tidak ada di dunia ini yang sempurna. Di balik kecantikannya yang menawan, dia tidak lain adlah sesosok gadis yang manja, egois, dan sombong. Hidupnya pun dikelilingi materi yang berlimpahan.

Suatu hari dia terlambat datang kuliah.

“Kenapa kamu terlambat?” tanya pak roni, dosen kami.

“Macet pak, di depan MPR sedang ada demo”. Jawabnya.

“Baik, lain kali jangan terlambat. Cepat duduk!” Seru dosen dengan sedikit amarah.

Usai kuliah, dosen meminta agar semua paper dikumpulkan kepada saya. Semua teman-teman segera mengumpulkan tugasnya kepada saya. Kecuali satu,, Ariessa.

“Mas, maaf saya blom ngerjain paper-nya. Bisa dikumpulin besok?” Ariessa meminta.

“Kalau yang lain sekarang, berarti kamu juga sekarang”. Jawabku tegas.

Merasa tidak mendapat jawaban yang diinginkan, dengan kesal ia pun segera pergi. Teman-temannya pun segera mengejarnya.

“Mau apa sih tu orang? Hari ini aku lagi kesal, jadwal pemotretan ku dibatalkan.” Ucap Ariessa dengan sedikit amarahnya.

“Udah deh, sekarang kamu tenang dulu” . Jawab icha teman terdekatnya yang berusaha menenangkannya.

“Malam pun tiba, gelap dan berkalut bintang. Sunyi, hening, dan sepi. Seolah senyap tak kunjung usai. Malam benar-benar dingin, namun aku harus tetap mengoreksi semua tugas teman-temanku. Aku pun kembali teringat dengan Ariessa yang belum mengumpulkan papernya. Aku pun segera menelponnya.

“Hallo Ariessa?” Aku menyapa.

“Ya benar, Ini siapa ya?” Balasnya.

“Tyo”. Jawab ku singkat.

“Oh mas tyo, ada apa ya?” Tanya dirinya.

“Akucuma mau bilang, besok kamu harus mengumpulkan tugas ke saya. Kalau tidak bawa saya tidak segan untuk memberi nilai kamu k. Kamu ngerti?”. Saya memberi ultimatum.

“Baik mas”. Jawabnya singkat lagi.

Akupun menutup telponnya.

“Memangnya siapa sih dia? Bisanya mengancam saya.” Kata Ariessa dengan kesalnya kepada Icha.

“Memang siapa sih yang menelpon?” Tanya Icha.

“Siapa lagi kalau buka asdos yang sok tegas dan sok pinter itu.” balas Ariessa.

Besoknya Ariessa segera memberikan papernya kepadaku. Aku tidak peduli kalau dia benar-benar kesal. Ariessa pun segera pergi dengan mobil mewahnya. Mobilnya melau dengan cepat di depanku saat aku sedang berjalan ke pintu gerbang dengan berjalan kaki. Tak lama terdengar suara yang begitu keras. Sepertinya itu adalah bunyi tabrakan. Aku pun segera berlari menuju pintu gerbang. Keramaian pun timbul. Bukan main kagetnya aku saat yang kulihat adalah mobil Ariessa. Dibantu mahasiswa lainnya akupun segera berusaha untuk menolongnya dan segera membawanya ke UGD menggunakan taksi.

Aku menunggu di UGD. Aku benar-benar khawatir. Orang tuanya segera datang. Dengan penuh suasana kepanikan, mereka bertanya-tanya mengapa kecelakaan itu bisa terjadi. Icha pun dengan panik menunjuk saya. Dengan amarah yang merasuki orangtua Ariessa, tamparan keras pun dilayangkan kepadaku. Aku pun dimaki-maki dan diusir dari rumah sakit. Aku tidak mengerti mengapa orang tua Ariessa memperlakukanku seperti itu. tidak terima diperlakukan seperti itu, aku pun pergi.

Esoknya di rumah sakit, Ariessa sadar dan bertanya-tanmya mengapa ia bisa sampai rumah sakit. Icha pun menjelaskan bahwa aku (Tyo) lah yang menolong nya.

“Namun, ibumu salah paham,jadi ia menampar Tyo karena telah mengira Tyo lah penyebabnya.” Ucap Icha agak takut.

“Apa , kok bisa?” tanya Ariessa penuh penasaran.

“Waktu itu aku tidak tahu penyebab kecelakaannya, jadi saat ibumu bertanya mengenai penyebab kecelakaan, akupun menunjuk ke arah Tyo.” Jawab Icha dengan penuh rasa bersalah.

“Aduh, kamu gimana sih, tak seharusnya dia mendapat perlakuan seperti itu.” Jawab Ariessa sedikit kesal.

“Ya udah, sebaiknya kita semu minta maaf aja ke dia kalau kamu sehat nanti.” Icha memberi solusi.

“Memang seharusnya begitu.” Tegas Ariessa.

Dua minggu kemudia Ariessa bersama keluarganya serta icha datang ke rumahku untuk meminta maaf. Orang tuaku pun segera mengetahui masalah ini. Pada dasarnya aku sudah tahu kalau kejadian kemarin hanyalah salah paham belaka. Jadi aku sudah memaafkan mereka. Sesaat aku tidak bisa berkata banyak. Ariessa pun diam seribu bahasa. Sesekali pandangan kita berdua menyatu. Dan Obrolan hanya berlangsung pada kedua orang tua kami.

Esoknya selesai kuliah ia mengajakku ke kantin. Aku berfikir agak lama. Namun ia tetap memaksaku, sehingga aku tidak mungkin menolak ajakannya.

“Kenapa sih kamu diam terus dari tadi?” tanya Ariessa.

“Apa, oh nggak kenapa-kenapa kok.” Jawabku singkat.

“Kamu masih marah soal kejadian waktu itu ya?” Tanya Ariessa agak bersalah.

“Nggak kok, aku sama sekali nggak marah.” Jawabku dengan sedikittersenyum.

“Bagus deh, jadi sekarang kita bisa berteman kan?” Tanya Ariessa kembali.

“Tentu aja, pertanyaan kamu kok aneh gitu sih.” Jawabku.

Aku sendiritidak percara kalau aku bisa sedekat ini dengannya. Padahal dulunya aku pernah berfikiran yang tidak-tidak akan dirinya. Namun sekarang ia selalu mengajak makan siang bersama. Semakin lama aku semakin mengerti akan dirinya. Pandanganku kini selalu mengarah kepadanya. Dari kejauhan aku selalu mengamatinya. Cantik, benar-benar cantik, matanya yang indah dan pipinya yang selaly memerah saat ia tersenyum.

Namun ada suatu pertanyaan yang mengganjal di pikiranku selama ini. Apa mungkin dia menyukaiku? Aku ini Cuma orang biasa, anak dari seorang pensiunan. Sedangkan dia, dia adalah anak orang kaya, model pula. Aku merasa berbeda jauh darinya. Banyak laki-laki yang mengejarnya. Aku pun bingung dengan apa yang harus aku lakukan. Suatu hari aku memutuskan untuk menghindar dari nya sebelum rasa sayangku padanya mulai mendalam.

Selama beberapa hari aku tidakberbicara kepadanya. Saat ia mengajak makan siang aku selalu menolaknya dengan berbagai alasan. Namun semakin lama, aku semakin teringat akan dirinya. Kali ini aku benar-benar menyukainya. Tiap malam aku terus terjaga dan memikirkan sosoknya. Akupun tidak bisa membohongi diri sendiri kalau aku memang sayang kepadanya.

Esoknya usai kuliah, Ariessa mengajakku ke taman di plaza kampus. Entah mengapa kali ini aku menerima ajakannya. Ia pun bertanya kepadaku.

“Kenapa sih kamu selama ini? Apa aku punya salah?” Tanya Ariessa dengan penuh penasaran.

“Nggak kenapa-kenapa. Kamu sama sekali nggak punya salah.” Jawabku kepadanya.

“Terus kenapa sekarang ini seakan-akan menghindari aku? Kamu tahu nggak sih kalau selama ini aku suka sama kamu, aku sayang kamu.” Ucap Ariessa dengan penuh histeris.

Aku kaget setengah mati. Entah perasaan apa yang timbul di benakku. Senangkah atau apa? Aku sendiri bingung. Aku tidak bisa berkata lagi. Aku hanya bisa menatap mata indahnya yang berkaca-kaca.

“Apa kamu tahu dengan kamu menghindar membuat hatiku semakin gelisah?’ Tanyanya kembali.

Kali ini aku benar-benar tidak bisa menjawab pertanyaannya.

“Aku minta maaf, aku tidak bermaksud untuk membuatmu seperti itu, kelak tak akan kuulangi. Aku hanya berfikir, pantaskah aku disisimu?” Ucapku padanya.

“Kenapa sih kamu berfikir seperti itu? aku juga hanya manusia biasa butuh akan adanya rasa cinta dan kasih sayang. Aku nggak peduli kamu suka aku atau nggak, tapi ijinkan aku untuk memberikan rasa sayangku ke kamu”. jawab Ariessa kembali.

Sejenak aku terdiam dalam keheningan. Tak kusangka rasa sayangnya kepadaku bisa sedalam itu.

“Maaf karena sebelumnya aku memang seorang pengecut. Kamu tahu, sebenarnya aku juga sayang kamu. setiap malam aku terus terjaga. Makam pun aku tak bisa. Bayangan akan sosokmu yang lembut selalu terbayang di benakku. Tatapanmu, senyumanmu, dan canda tawamu. Tak sedetikpun aku melupakanmu.”

Ariessa meneteskan air mata tak lama setelah aku berkata seperti itu. dihadapan air mancur serta bunga-bunga yang bermekaran, kami pun mengikat janji setia sepasang kekasih. Tak akan pernah kubiarkan dia bersedih dan menangis. Kukan selalu menjaga dan melindunginya. Tak kan ada yang bisa menyakitinya.

KASIHKU ARIESSA.

Leave a Reply

Your email address will not be published.